Perkembangan Metakognitif

Faktor kesuksesan seorang anak di masa depan ditentukan oleh
bagaimana perkembangan seluruh aspek dirinya, yaitu perkembangan fisik,
kognitif/intelektual, emosi, dan spiritual yang berkembang secara optimal.
Walaupun secara garis beras garis hidup manusia ditentukan oleh kedua faktor,
yaitu faktor hereditas dan lingkungan tetapi akan lebih mudah untuk
berkonsentrasi kepada faktor lingkungan karena secara langsung memiliki
konseksuensi parktis pada pola pengasuhan dan pendidikan anak. Sementara,
faktor hereditas cukup untuk kajian awal tentang potensi dasar sesroang dan
untuk menelusuri berbagai faktor hereditas yang negatif. Pengaruh Faktor
hereditas pada manusia berhenti sesaat setelah peristiwa konsepsi terjadi.
Setelah itu, faktor lingkunganlah yang secara dominan dan aktual
mempengaruhi seluruh aspek kemanusiaa. Faktor hereditas hanya memberi
modal dasar saja. Berbagai penelitian menyatakan bahwa perkembangan manusia sudah
dimulai pada masa prenatal tidak hanya aspek fisik tetapi aspek-aspek lainnya
seperti kognitif, emosi, dan bahkan spiritual. Hal ini tentunya dalam batasanbatasan
tertentu sesuai dengan kondisi janin atau dapat dikatakan sebagai pembentukan karakter dasar. Seperti emosi janin dan setelah besar nanti ternyata
dipengaruhi oleh kondisi emosi sang ibu. Perkembangan ini akan terus berlanjut sampai lahir dan besar nanti yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan berupa
pola pengasuhan dan pendidikan.
Salah satu aspek perkembangan yang selalu menjadi fokus perhatian
adalah perkembangan kognitif anak dengan tidak mengabaikan aspek
perkembangan lainnya. Perkembangan kognitif dianggap penting karena sering
dikaitkan dengan kecerdasan anak. Perkembangan kognitif yang normal
mengindikasikan berkembangnya kecerdasan anak. Sementara perkembangan
kognitif berlaku sejak awal kelahiran atau bahkan semenjak prenatal, aspek lain
seperti emosi dan spiritual mengalami perkembangan yang pesat sesudahnya
walaupun dasar-dasarnya telah mulai dididikkan sejak dini.
Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan
manusia yang berkaitan dengan pengertian (pengetahuan), aitu semua proses
psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan
memikirkan lingkungannya (Desmita, 2006 : 103). Sementara menurut Chaplin
(2001, Desmita, 2006 : 103), dijelaskan bahwa kognisi adalah konsep umum
yang mencakup semua bentuk pengenal, termasuk di dalamnya mengamati,
melihat, memperhatikan, memberikan, menyangka, membayangkan,
memperkirakan, menduga dan menilai. Secara tradisional, kognisi sering
dipertentangkan dengan konasi (kemauan) dan dengan afeksi (perasaan).
Sementara perkembangan kognitif dianggap sebagai penentu
kecerdasan intelektual anak, kemampuan kognitif terus berkembang seiring
dengan proses pendidikan serta juga dipengaruhi oleh faktor perkembangan
fisik terutama otak secara biologis. Perkembangan selanjutnya berkaitan
dengan kognitif adalah bagaimana mengelola atau mengatur kemampuan
kognitif tersebut dalam merespon situasi atau permasalahan. Tentunya, aspekaspek
kognitif tidak dapat berjalan sendiri secara terpisah tetapi perlu dikendalikan atau diatur sehingga jika seseorang akan menggunakan kemampuan
kognitifnya maka perlu kemampuan untuk menentukan dan pengatur aktivitas kognitif apa yang akan digunakan. Oleh karena itu, sesorang harus memiliki kesadaran tentang kemampuan berpikirnya sendiri serta mampu
untuk mengaturnya. Para ahli mengatakan
kemampuan ini disebut dengan metakognitif.
Saat ini, kajian tentang metakognitif telah berkembang bahkan telah
diterapkan dalam pembelajaran seperti matamatika dan bahasa. Misalnya,
dalam memecahkan masalah matematika, siswa perlu memiliki kemampuan
metakognitif untuk mengatur strategi pemecahan masalah, sedangkan dalam
pembelajaran bahasa adalah siswa harus memiliki kemampuan metakognitif
dalam membaca buku.
Hal yang menarik untuk diungkap dalam makalah ini adalah
bagaimana perkembangan metakognitif anak serta perannya terhadap
kemampuan belajar anak. Selama ini, kemampuan metakognitif dianggap baru
dapat dikuasai oleh orang yang dewasa tetapi ternyata sudah dapat dimiliki oleh
seorang anak walaupun dalam bentuk yang sederhana. Berdasarkan hal ini
maka makalah ini ditulis untuk mengungkap lebih lanjut tentang
perkembangan metakognitif anak.